Trilogi The Hunger Games [review]

Trilogi The Hunger Games ini terdiri dari buku pertama yang berjudul “The Hunger Games”, kemudian “Catching Fire” dan buku terakhir yang berjudul “Mocking Jay”. Trilogi ini menceritakan tentang sebuah dinasti pemerintahan yang sangat berkuasa dan adidaya yang dipimpin oleh seorang diktator. Tersebutlah negara Panem namanya. Negara Panem ini memiliki ibu kota negara yaitu Capitol yang dikelilingi dua belas distrik. Distrik-distrik yang terdapat pada Panem bekerja untuk memenuhi kebutuhan di negeri Panem tersebut. Masing-masing distrik memiliki tanggung jawab yang berbeda-beda, ada distrik yang bertanggung jawab sebagai sumber pertambangan, ada distrik yang bertanggung jawab untuk mengolah ladang pertanian, ada distrik yang memproduksi peralatan dan penelitian elektronik, ada juga distrik yang bertugas mengolah hasil laut, kemudian terdapat juga distrik yang khusus memproduksi bahan-bahan tekstil. Namun ternyata terdapat kesenjangan sosial di antara distrik-distrik tersebut. Ada dua distrik yang sepertinya menjadi kesayangan dari Panem, distrik tersebut adalah distrik 1 yang merupakan penghasil barang-barang mewah dan perhiasan dan juga distrik 2 yang merupakan pusat pertahanan militer bagi Panem. Kesejahteraan distrik-distrik selain distrik kesayangan Panem tersebut juga dinilai memprihatinkan. Masing-masing hasil bumi dan hasil produksi dari distrik-distrik tersebut dialokasikan ke Ibu Kota Negara yaitu Capitol. Kebanyakan distrik-distrik tidak mendapat bagian yang berimbang, distrik-distrik hidup di dalam kemiskinan. Kebanyakan distrik-distrik tersebut pun tampak bagaikan kota atau bahkan desa kumuh yang tertinggal. Sangat kontras jika dibandingkan dengan Capitol. Gedung-gedung mewah yang megah menjulang tinggi ke angkasa. Fasilitas-fasilitas modern dan canggih dapat ditemukan disana. Penduduk Capitol tampak hidup bermewahan bahkan digambarkan penduduk Capitol hampir setiap hari selalu berpesta pora. Bagi yang sudah melihat film The Hunger Games, mungkin kita akan mengira jika penduduk-penduduk Capitol semuanya adalah Lady Gaga dan Nicki Minaj karena penampilan-penampilan penduduk Capitol yang tampak glamour dipadu dengan pakaian, tata rias wajah dan warna rambut yang aneh dan mentereng.

Untuk lokasi Panem ini digambarkan berada di Amerika Utara, namun penulis (Suzzane Collins) tidak menjelaskan batas-batas wilayah dari negeri Panem tersebut. Bahkan setting waktu untuk trilogi The Hunger Games ini tidaklah jelas, yang jelas setting waktu untuk trilogi buku ini adalah sekitaran waktu di masa depan.

Pada trilogi ini dikisahkan tentang permainan yang dinamakan “The Hunger Games”. Permainan ini mewajibkan masing-masing distrik untuk mengirimkan dua peserta (satu laki-laki dan satu perempuan) yang berusia antara 12-18 tahun untuk mewakili masing-masing distriknya dan akan diadu dalam sebuah arena pembantaian. Masing-masing peserta harus bertahan hidup hingga permainan menyisakan satu orang peserta yang mampu bertahan untuk dinobatkan menjadi pemengang. Para peserta harus bertahan dalam arena yang sudah ditentukan, arena pertarungan biasanya merupakan tiruan dari alam liar sehingga para peserta harus mencoba untuk bertahan hidup dari ganasnya alam dan melindungi diri dari ancaman peserta lain. Para peserta dari masing-masing distrik dipilih melalui undian. Masing-masing distrik harus memasukkan nama anak yang berusia 12-18 tahun untuk nantinya diundi. Terdapat pihak yang bertanggung jawab untuk masing-masing distrik tersebut, perwakilan dari pihak tersebut kemudian memilih dua nama anak secara acak dari distrik tersebut dengan cara mengambil kertas dari sebuah wadah yang berisi nama-nama calon peserta (wadah untuk peserta laki-laki dan perempuan dipisah). Dua peserta yang terpilih tadi kemudian dikirim ke Capitol dan bergabung dengan para peserta dari distrik lainnya. Para 24 peserta yang terpilih kemudian mengikuti pelatihan bertahan hidup dan cara bertarung di tempat pelatihan khusus di Capitol. Hingga waktu yang ditentukan tiba untuk para peserta terjun ke arena. Permainan ini pun disiarkan melalui televisi ke seluruh antero negeri Panem, dari awal pengundian peserta masing-masing distrik, saat mereka latihan di Capitol dan hingga saatnya mereka terjun ke Arena untuk bertahan hidup. Hunger Games diadakan setiap setahun sekali guna memperingati Masa Kegelapan 75 tahun lalu, dimana Panem saat itu dilanda pemberontakan dari masing-masing distriknya. Pemberontakan ini mengakibatkan lenyapnya satu distrik yaitu distrik 13. The Hunger Games ini diadakan guna memperingati kejadian tersebut, dan Panem ingin menunjukkan kepada seluruh distrik kalau mereka tidak akan berdaya melawan kekuatan Panem. Para penduduk dipaksa menonton perwakilan masing-masing distrik untuk saling bunuh atau terbunuh di arena tanpa mereka bisa melakukan apa-apa. Berusaha memunculkan rasa takut dan menjadikan rasa takut sebagai  senjata pemerintah untuk mengendalikan warganya. Itulah tujuan awal dari The Hunger Games.

Pada trilogi ini tokoh utama berasal dari distrik 12, distrik penambangan batu bara. Tokoh utama pada trilogi ini bernama Katniss Everdeen. Kemunculan Katniss mulanya membuat heboh seluruh Panem, karena Katniss dengan suka rela menggantikan adiknya yang berusia 12 tahun yang bernama Prim Everdeen. Peraturan dari Hunger Games memang memperbolehkan para peserta yang terpilih untuk digantikan oleh orang yang bersedia menggantikan posisi peserta yang terpilih. Katniss kemudian berdampingan dengan seorang anak laki-laki yang terpilih, yang bernama Peeta Mellark. Sebelum kepergian Katniss ke Capitol, Katniss menitipkan adik dan ibunya ke sahabatnya Gale Hawthorne karena Katniss sudah tidak memiliki ayah sehingga ia merasa sahabat dekatnya bisa melindungi keluarganya.

Pada buku pertama lebih menceritakan kisah Katniss Everdeen dalam menghadapi kehidupannya yang miskin di distrik 12 dan bagaimana seorang Katniss Everdeen memiliki rasa sayang yang besar kepada adiknya dengan menggantikan posisinya di Hunger Games. Diceritakan pula dalam buku pertama ini ternyata Katniss memiliki kemampuan berburu yang baik dan ini menjadikannya peserta yang termasuk diperhitungkan di dalam Hunger Games. Tak itu saja kisah percintaan Katniss pun  disorot pada buku pertama ini. Awalnya adalah ketika Peeta Mellark mengungkapkan perasaan cintanya kepada Katniss melalui sebuah Talk Show yang diadakan sebelum The Hunger Games dimulai. Seantero Panem pun mengetahui hal ini dan langsung menjuluki mereka “pasangan malang dari distrik 12” karena The Hunger Games hanya memiliki satu pemenang di akhir dan mereka tentunya tidak akan bisa bersatu karena salah satu dari mereka harus mati.

Pada buku ke dua yaitu “Catching Fire”, Katniss Everdeen dan Peeta Mellark ternyata berhasil keluar sebagai pemenang Hunger Games. Buku ke dua ini menceritakan tentang api pemberontakan yang sudah mulai tersulut di beberapa distrik karena ulah Katniss Everdeen selama Hunger Games. Presiden Snow pemimpin dari Panem mengancam Katniss secara langsung untuk meredakan kegelisahan penduduk distrik pada saat tur kemenangannya. Keluarga dan orang-orang yang disayangi Katniss pun menjadi taruhannya. Buku ini tentunya juga tetap dibumbui kisah percintaan, bahkan dalam Catching Fire kisah percintaan Katniss yang dihadirkan semakin rumit dengan kehadiran Gale, kisah cinta segitiga pun mulai muncul diantaranya.

Buku terakhir, “Mockingjay” menceritakan tentang pemberontakan yang sudah tidak dapat dihindarkan lagi, Panem dilanda perang. Banyak distrik yang diluluh lantakkan, Katniss menjadi simbol  pemberontakkan pada buku ini, namun semakin dia menjadi simbol pemberontakkan Presiden Snow pun membuat Katniss semakin menderita.

Secara keseluruhan trilogi The Hunger Games ini sangat bagus. Ketika membaca buku pertama dari trilogi ini, pasti para pembaca akan dibuat penasaran dan ingin segera melanjutkan ke seri buku berikutnya. Kesuksesan dari trilogi The Hunger Games ini dapat dilihat dari beberapa penghargaan yang didapatkannya, diantaranya:

•             #1 USA Today Bestseller

•             #1 New York Times Bestseller

•             #1 Wall Street Journal Bestseller

•             #1 Publishers Weekly Bestseller

•             A People magazine (Top 10) Best Book of 2009

•             A Time Magazine Best Fiction Book of 2009

•             A Publishers Weekly Best Book of 2009

•             A Kirkus Best Book of 2009

•             A 2009 BooklistEditors’ Choice

“Suzzane Collins tahu betul bagaimana mempermainkan perasaan pembaca dengan karakter-karakter yang ada di dalamnya.” – Glagah Seto S Katon

Penilaian saya untuk buku ini adalah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s