Ulasan Paruh Musim: Juventus Bersama Max Allegri, Yay or Nay?

IMG_20150119_025832

Kepergian Conte musim ini memaksa saya untuk menulis tentang “Analisis: Kepergian Conte dari Juventus Sebab dan Akibatnya” diawal musim serie A 2014/2015, maka dengan adanya artikel tersebut saya merasa berkewajiban untuk mengulas kelanjutan dari hipotesis-hipotesis yang saya berikan ketika Juventus ditangani Max Allegri, apa saja perubahan Juventus ketika ditangani Allenatore Max Allegri. Ditutup dengan kemenangan 4-0 dari Hellas Verona pada Senin dini hari kemarin maka resmi setengah musim sudah dilewati dan Juventus berhasil mempertahankan posisi pertama sehingga layak dinobatkan menjadi juara paruh musim atau Winter Champion.

Setengah musim sepertinya cukup untuk menimang-nimang apakah Max sukses menangani Juventus. Bagi saya pribadi jawabannya adalah Yay!. Setelah berbagai keraguan banyak menghinggapi para pendukung Juventus, termasuk saya. Tapi semua itu berhasil dimentahkan. Saya ingat ketika banyak cibiran menghampiri Max, dia hanya menjawab bahwa dia hanya akan membuktikan dengan aksi dan sikap profesonalitasnya untuk mempertahankan tren kemenangan yang Juventus punya, untuk meraih hati para Juventini di seluruh dunia. Perubahan pelatih tentunya akan merubah gaya permainan meskipun pelatih tersebut berusaha mempertahankan formasi pelatih terdahulu.

Kalau kita membicarakan gaya permaianan, ya disinilah Juve versi Max terlihat sangat berbeda dengan versi Conte, meskipun awalnya sama-sama menggunakan formasi 3-5-2 anak-anak asuh Max ini bermain dengan tempo lebih cepat. Bahkan dapat dikatakan Juve yang sekarang mampu melakukan serangan balik yang cepat, efektif dan mematikan dimana hal ini sebelumnya tidak bisa dilakukan oleh Conte.

20150121022021

Max memang terkenal dengan permainan tempo cepat, dari sisi tengah pemain harus bisa langsung menggedor pertahan lawan dengan sangat cepat oleh karenanya Max sebenarnya sangat senang pemain tengah dengan fisik kuat, inilah alasan para fans mulanya ragu Max akan cocok dengan gaya bermain Pirlo, pemain flamboyan satu ini diprediksi tidak akan cocok dengan formasi dan gaya bermain Max layaknya di AC Milan dulu. Hal ini ternyata tidak terbukti, disinilah menurut saya awal kunci keberhasilan Max. Dulu Allenatore Max terkenal tidak mampu menjalin chemistry baik dengan para pemainnya, Max seringkali terlihat sulit menyatu dengan para pemainnya tidak seperti Conte. Di Juventus (sampai sejauh ini) hal tersebut tidak ditunjukkan Max Allegri. Kedewasaan Max terlihat di Juventus dengan mengalah tidak membiarkan egonya menguasainya mencoba menjalin hubungan lebih dekat juga melihat lebih dalam kemampuan dan gaya bermain para pemain-pemainnya, dengan tetap mempertahankan formasi Conte yang bergantung dengan Pirlo sebagai arsitektur lapangan tengah. Voila ternyata hal ini berhasil, saat Juventus ingin bermain dengan tempo cepat ala-ala Allegri Juventus sudah memiliki Vidal, Marchisio, dan Pereyra. Ketika Juventus ingin menjaga tempo dengan bermain lambat Juventus punya Pirlo dan Pogba yang tidak segan-segan tetap membahayakan gawang lawan dengan tiba-tiba.

Juventus yang berbekal segudang pemain tengah dengan kualitas tinggi ini pada akhirnya membuat Allegri memikirkan skema formasi lainnya, skema formasi favoritnya tentunya yaitu 4-3-1-2. Dimana dengan formasi itu Pirlo, Pogba, Marchisio dan Vidal dimainkan bersamaan, vidal atau Pereyra biasanya menempati posisi dibelakang kedua striker layaknya seorang trequetista bisa dibilang strategi ini cukup berhasil, hal ini memungkinkan Allegri dapat menjalankan strategi tempo cepat kemudian switch ke tempo lebih lambat secara mulus guna melakukan total domination di pertandingan.

Selain berhasil mempertahankan posisi pertama hingga tengah musim Juventus juga berhasil lolos ke fase babak 16 besar Liga Champions. Secara mengejutkan Juventus juga masih memiliki Grinta, mulanya dengan tidak adanya Conte sang motivator ulung saya akan memprediksi Juventus akan kehilangan Grintanya, hal ini terbukti juga terpatahkan beberapa kali Juventus mampu balik dari ketertinggalannya, seperti ketika menghadapi Olympiakos tertinggal 1-2 namun dengan seketika bisa membalik keunggulan menjadi 3-2, juga ketika menghadapi Torino, gol indah dari Pirlo di detik-detik terakhir layaknya golden goal langsung mampu membawa Juventus menang di ajang derby tersebut.

Catatan penting, bukan berarti Max sudah sempurna untuk Juventus, Max Allegri tidak berhasil membawa Juventus menjadi juara Super Coppa Italia, Juventus kalah melawan Napoli (melalui adu pinalti 5-6). Kalau menilik kegagalan Juventus saat menghadapi Napoli di Super Coppa lebih kesisi non teknis, pertandingan tersebut berada di penghujung waktu liburan para pemain, para pemain seperti terlihat kurang berambisi meraih kemenangan setidaknya ini pendapat saya. Dimomen-momen seperti ini seharusnya Max tetap mampu memotivasi para anak-anak asuhnya untuk tetap berjuang disegala kondisi, disegala jenis pertandingan.

Kelemahan Max masih pada sisi non teknis, Max harus mampu menjadi motivasi ulung, meskipun Juventus terlihat masih memiliki Grinta namun para pemain mungkin akan berada di titik jenuhnya setelah 3 kali berturut-turut juara tanpa ada satupun ancaman berbahaya dari tim lain di tiga musim belakangan. Dari sisi teknis saya percaya Max merupakan pelatih dengan otak encer yang mampu meramu strategi-strategi jenius disetiap pertandingannya. Dengan meminimalisir kelemahan tersebut Max akan menjadi pelatih sempurna untuk Juventus. Bukan hal yang tidak mungkin jika musim ini Juventus akan berbicara banyak di Liga Champions.